Gelar pelatihan budidaya lebah madu, UPT PPM DLHK Riau gaet BP2TSTH
Pelatihan budidaya lebah madu

By Sutomo Dardi 20 Agu 2020, 18:43:19 WIBBERITA LITBANG & INNASI

Gelar pelatihan budidaya lebah madu, UPT PPM DLHK Riau gaet BP2TSTH

Keterangan Gambar : Pemberian Materi : Avry Pribadi (baju Putih) Bengkalis, 12 Agustus 2020 Foto : tim perlebahan


Bengkalis – Unit Pelaksana Teknis Pelatihan Kehutanan dan Pemberdayaan Masyarakat (UPT PPM), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Riau menggaet Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) Kuok pada pelatihan budidaya lebah madu di Desa Bantan Tengah, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis. Acara yang digelar selama 3 hari ini (12-14 Agustus 2020) diikuti oleh petani lebah Apis cerana yang ada di Pulau Bengkalis. Kolaborasi ini sebagai tindak lanjut kunjungan UPT PPM DLHK bulan Juni yang lalu.

Acara dibuka oleh Mohd Fuad selaku Kepala UPT PPM DLHK Provinsi Riau. Dalam sambutannya beliau menyampaikan harapannya agar pelatihan kali akan membawa dampak positif bagi perekonomian dan menjadi penggerak kegiatan ekonomi masyarakat.

“Saya mempunyai cita-cita bahwa suatu saat di sini menjadi pusat komoditas perlebahan dan menjadi pusat pengolahan produk lebah dari hulu sampai ke hilir. Pulau Bengkalis ini sudah memiliki potensi dan sudah berjalan produksi madunya, tinggal konsistensi kita menekuninya” ujar Fuad.

“Salah satu contoh yang sudah berhasil menerapkan satu komoditas daerahnya di Provinsi Riau adalah Pulau Meranti. Mereka terkenal sebagai pusat sagu dimana dari hulu sampai hilirnya sudah ada disitu. Selain itu, saat ini Pasir Pangaraian juga sedang mengembangkan aren sebagai komoditas unggulannya.” Ucapnya mendetailkan.

Pelatihan kali ini diharapkan menjadi pelopor kegiatan serupa yang dapat diterapkan di Desa dan Kecamatan lainya yang ada di Pulau Bengkalis. Dengan demikian, Pulau Bengkalis suatu saat nanti akan menjadi pusat madu di Provinsi Riau. Kegiatan berikutnya tidak hanya mengenai budidaya lebah tetapi pengembangan dan diversifikasi produk perlebahan hingga konsep pemasarannya. Berbagai skema dapat dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah desa dengan dinas terkait maupun melalui bantuan Corporate Sosial Responsibility (CSR) Perusahaan. Keberadaan badan Usaha Milik Desa (BUMDES) dapat menjadi penggerak masyarakat untuk berbisnis dan mengembangkan produk turunan perlebahan.

Materi pelatihan yang disampaikan oleh Tim Perlebahan BP2TSTH meliputi: pengenalan lebah madu, biologi lebah, pakan lebah, manajemen koloni, pengujian madu, pengolahan dan pengembangan produk. Dilanjutkan dengan pengenalan lebah penghasil madu dari jenis kelulut (Trigona sp).

Selain pemberian materi, pelatihan kali ini dikombinasikan dengan kegiatan diskusi mengenai teknis budidaya lebah penghasil madu. Hal ini dikarenakan peserta yang mengikuti kegiatan sudah melakukan budidaya lebah. Avry Pribadi,S.Si,M.Sc selaku pemateri dari BP2TSTH menjelaskan beberapa solusi alternatif yang bisa diterapkan oleh petani berdasarkan pengalaman dan referensi yang pernah dibacanya.

“Budidaya lebah penghasil madu terutama jenis Apis cerana membutuhkan ketelitian dan kecermatan kita dalam manajemen koloni dan pakan. Lebah merupakan serangga sosial, sehingga strata per jenis lebah disetiap koloni harus senantiasa berimbang komposisinya” Ujar pria lulusan University of Georgia ini.

Disamping materi budidaya lebah madu, disampaikan pula materi mengenai teknik pemanenan dan pengolahan berbagai produk perlebahan menggunakan bahan baku madu, propolis, polen, dan lilin lebah oleh Opik Taupik Akbar,S.Hut. Produk yang dihasilkan berupa sabun, propolis, bee pollend yang secara umum sangat aplikatif untuk kesehatan, kecantikan dan suplemen makanan. “Pengolahan produk perlebahan dapat meningkatkan nilai hasil perlebahan dan memanfaatkan bahan-bahan yang saat ini belum termanfaatkan” Ujarnya.

Suasana Pelatihan : Peserta pelatihan budidaya lebah madu Bengkalis, 12 Agustus 2020 foto : Tim Perlebahan

Pelatihan kali ini menjadi berbeda dengan hadirnya Bapak Subari, salah satu peternak lebah Apis cerana asal Bengkalis yang telah sukses dan meraih penghargaan dari Presiden Republik Indonesia dalam Kegiatan Usaha Bersama (KUBE) pada tahun 2012 silam. Meskipun sudah bertahun-tahun melakukan budidaya lebah Apis cerana, Subari sangat senang dan tetap antusias mengikuti kegiatan kali ini.

“Setiap pelatihan yang saya ikuti akan ada pengetahuan baru yang bisa diterapkan untuk kelompok kita. Seringkali kegiatan ini memberikan informasi akurat untuk menjawab solusi dan tantangan teknis yang kami alami” Ungkapnya.

Kegiatan pelatihan ini mendapat apresiasi dari peserta yang ditunjukan dari aktifnya para peserta dalam menanggapi materi yang diberikan meskipun dengan penerapan protokol kesehatan. Berdasarkan diskusi yang berkembang saat pelatihan, peternak di Pulau Bengkalis belum melakukan pengembangan dan diversifikasi produk perlebahan. Produk selain madu masih belum termanfaatkan bahkan terbuang begitu saja. Padahal kalau diolah dan diupayakan, produk yang tadinya dianggap sampah bisa bernilai ekonomis kembali. Saat ini produksi madu dari sektor budidaya di Kecamatan Bantan mencapai 2 ton per tahun. **OTA



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook