Inovasi Pellet Benih dari Limbah Serasah untuk Mendukung Program RHL

By Sutomo Dardi 20 Jan 2021, 10:50:19 WIBBERITA LITBANG & INNASI

Inovasi Pellet Benih dari Limbah Serasah untuk Mendukung Program RHL

Keterangan Gambar :


Berdasarkan data inventarisasi di Direktorat Jenderal PDAS-HL Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas lahan kriitis dan sangat kritis di Indonesia tahun 2018 seluas 9.453.729 Ha dan 4.552.721 Ha. Berdasarkan laporan kinerja KLHK tahun 2018, luas lahan kritis dan sangat kritis yang sudah direhabilitasi kurun waktu 2013-2017 adalah seluas 1.764.412 Ha untuk kawasan hutan, 184.515 Ha untuk reboisasi kawasan lindung dan 1.578.605 Ha untuk rehabilitasi lahan di luar kawasan hutan.

Dari data-data tersebut, diketahui bahwa kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan yang dilakukan pada lahan kritis dan sangat kritis di Indonesia baru sekitar 14,5% dari total luas lahan kritis yang ada. Selain anggaran yang besar, minimnya teknologi rehabilitasi yang efektif dan efisien merupakan salah satu kendala lambatnya kegiatan rehabilitasi lahan dan hutan.

Secara alami hutan yang terdegradasi dapat pulih kembali melalui proses suksesi alaminya. Namun itu butuh waktu yang lama. Rehabilitasi hutan dan lahan yang terdegradasi memerlukan campur tangan manusia untuk percepatan keberhasilannya.

Menurut Nurhasybi dan Sudrajat (2005) regenerasi alami mengalami kesulitan karena pada lahan-lahan yang kritis sulit ditemukan pohon-pohon yang mampu menghasilkan benih dengan kualitas dan kuantitas yang memadai. Sedangkan penanaman konvensional memerlukan waktu dan biaya yang cukup besar. Ini diperparah lagi dengan aksesibilitas yang rendah pada sebagian besar lahan kritis.

Sistem direct seeding merupakan salah satu teknik rehabilitasi hutan dan lahan yang dinilai paling cepat, efektif dan berbiaya murah. Benih-benih tanaman kehutanan yang akan dijadikan sebagai materi penanaman, terlebih dahulu dimodifikasi dengan cara dibungkus agar survival rate nya di lapangan tinggi. Hal ini penting mengingat kendala utama dalam sistem direct seeding adalah adanya predator benih, kadar air dan daya kecambah yang rendah.

Komposit bahan pembungkus benih tanaman hutan terdiri dari serat alam sebagai bahan pengisi dan penyimpan air dan perekat. Nutrisi serat alam untuk tumbuh kembang benih juga perlu dikombinasikan sehingga mendapatkan komposisi yang paling optimum.

Pembuatan pellet benih dari limbah atau biomassa serasah yang terdapat di sekitar arboretum kantor yang luasnya mencapai 9 Ha, merupakan salah satu upaya yang dilakukan BP2TSTH Kuok dalam meningkatkan keberhasilan program rehabilitasi lahan dan hutan. Pellet benih dapat menyediakan kebutuhan kelembaban/air dan hara pada fase awal proses perkecambahan hingga tumbuh berkembang di lapangan.

Penggunaan pellet benih dapat mengurangi atau melindungi benih dari kerusakan akibat adanya hewan pemakan benih atau predator benih. Di samping praktis, penggunaan pellet bibit ini nantinya dapat mengurangi persentase kematian tanaman akibat gangguan fisiologis akar pada saat penanaman yang berasal dari bibit tanaman di persemaian.

Salah satu cara dalam pemanfaatan biomassa serasah di arboretum BP2TSTH Kuok adalah dengan pembuatan kompos. Pengolahan biomassa serasah ini diharapkan dapat memberikan nilai lebih bagi lingkungan, serta mengurangi ketergantungan pemakaian pupuk anorganik. Dengan demikian, gerakan hidup sehat dapat dijalankan semaksimal mungkin.

Menurut Hairiah, et al. 2004 dalam Riyanto, et al. 2013, sepanjang daur hidup pohon akan menghasilkan serasah. Serasah atau bagian tanaman yang telah mati baik itu daun, ranting, batang, buah, bunga yang jatuh pada permukaan tanah dalam bentuk utuh maupun telah mengalami pelapukan sebagian.

Banyaknya serasah yang belum dimanfaatkan secara maksimal di arboretum, mendorong BP2TSTH Kuok menghadirkan inovasi pemanfaatan serasah dalam bentuk pellet benih. Bahan baku utama pellet benih adalah kompos dari biomassa serasah tumbuhan arboretum dan serat dari sabut kelapa atau yang sering disebut cocodust.

Pembuatan pellet benih diawali dengan menyiapkan media tanam, seperti kompos dari biomassa serasah, arang sekam, dan cocodust dengan perbandingan masing-masing 1 bagian. Media yang sudah dibuat selanjutnya dicampur perekat, dalam hal ini digunakan tepung tapioka dengan kadar persentase perekat yang dipakai adalah 2,5%. Campuran bahan-bahan dan perekat yang sudah homogen kemudian dicetak.

Pellet benih yang sudah dicetak kemudian dikeringkan dengan menggunakan sinar matahari selama 1-2 hari atau dioven dengan suhu kurang lebih 80 oC selama 20 jam. Setelah kering pellet benih dilapisi dengan larutan bee wax atau lilin dari limbah sarang lebah dengan kadar 12%. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan sifat ketahanan pellet benih terhadap gangguan dari luar seperti air, predator benih dan lainnya.

Pengujian penanaman pellet benih di lapangan hingga saat ini masih dalam tahap pengamatan untuk mengetahui persentase keberhasilan pertumbuhan di lapangan dan jenis-jenis benih yang cocok dengan metode ini. Menurut Jone et al. (2014) pembuatan atau penggunaan pellet benih dapat meningkatkan persen perkecambahan benih, melindungi benih, menghemat sumber daya, serta kepraktisan dalam penanaman.*** Agus Wahyudi dan Eka Kumala J.T.



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook