Kayu Geronggang, Sumber Serat di Lahan Gambut

By Sutomo Dardi 16 Sep 2020, 17:37:26 WIBBERITA LITBANG & INNASI

Kayu Geronggang, Sumber Serat di Lahan Gambut

Keterangan Gambar : Documentasi : Priyo Kusumedi, S.Hut, MP


LAHAN gambut di Provinsi Riau termasuk yang terluas di Pulau Sumatera. Di lahan yang menjadi habitusnya, pohon geronggang (Cratoxylon arborescens (Vahl.) Blume) mengisi porsi yang cukup dominan untuk dapat dikembangkan sebagai sebuah peluang dalam pengelolaan lahan gambut.

Jenis kayu ini merupakan kayu lokal yang ditemukan di Provinsi Riau khususnya di beberapa kabupaten dengan dominasi lahan bergambut. Kabupaten Bengkalis, merupakan salah satu kabupaten yang sudah mulai mengembangkan geronggang, dipelopori oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Ikatan Pemuda Melayu Peduli Lingkungan.

Sebagai bagian dari kearifan lokal, masyarakat setempat memanfaatkan kayu kayu geronggang sebagai bahan konstruksi. Selain itu kayu geronggang secara mikroskopis memiliki peluang sebagai sumber serat alam dari jenis kayu-kayuan.

Aplikasi serat dari komoditi kehutanan adalah sebagai bahan baku pulp dan kertas, rayon sebagai bahan baku pakaian dan papan serat. Suatu kayu dapat dikatakan sebagai bahan baku alternatif sebagai serat dilihat dari karakteristik serat dan kandungan kimia kayu. Dari perspektif itu, serat kayu geronggang termasuk pada kualitas serat kelas satu.

Parameter kualitas serat sangat menentukan untuk tujuan akhir pemanfaatannya. Komposisi kimia kayu dari geronggang sebagai bahan baku pulp dan kertas adalah pada jumlah persentase kandungan selulosanya. Hasil analisis menunjukkan kadar selulosa geronggang berkisar 40-42%, sedangkan kandungan lainnya dapat diminimalisir pada saat pengolahan pulp dan kertas.

Pertimbangan lain setelah parameter dimensi serat dan kandungan kimia kayu adalah parameter berat jenis. Parameter ini diperlukan untuk kelayakannya sebagai kayu dengan potensi sebagai sumber serat alam. Berat jenis geronggang berkisar 0,43-0,47. Nilai ini tentu saja masih dibawah kayu krassikarpa yang berkisar 0,55 pada umur 4 tahun.

Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan geronggang berpeluang sebagai sumber serat di masa depan melalui konsep pemuliaan dan sentuhan teknologi. Suatu kayu lokal dengan mendapatkan teknologi pemuliaan nantinya akan dapat setara secara karakteristik mikroskopis dengan kayu yang sudah eksis saat ini sebagai sumber serat.

Berdasarkan fakta di atas maka pengolahan geronggang dapat dijadikan sebagai bahan baku pulp dan kertas. Saat ini dengan memanfaatkan geronggang yang ada di alam telah membuktikan bahwa pulp yang dihasilkan memenuhi standar persyaratan mutu pulp kraft (kimia) kayu daun.

Nilai sifat fisik pulp geronggang yang meliputi indeks tarik, retak dan sobek sangatlah cocok untuk dijadikan sebagai bahan baku pulp kayu daun. Melalui persyaratan itu maka pulp geronggang bisa digunakan kertas tulis dan kertas tisu.

Selain pengolahan dengan metode kraft, pengolahan kayu geronggang secara semi-mekanis juga pernah dilakukan dan menghasilkan pulp sebagai pencampur untuk kertas koran. Apabila dibandingkan peruntukkannya untuk kertas, maka kertas koran dari geronggang tidak ekonomis secara produksi.

Berdasarkan sifat kayunya, geronggang memiliki potensi sebagai bahan baku pulp dan kertas walaupun belum sehebat Acacia crassicarpa. Tantangan pengembangan geronggang saat ini adalah diperlukannya teknologi input dalam menyediakan bibit unggul. Selanjutnya kebutuhan akan teknologi output nantinya ditujukan untuk meningkatkan rendemen pulp dan nilai tambah serat geronggang.

Secara alami, geronggang memberikan peluang alternatif sebagai sumber serat alami hal ini berdasarkan kajian geronggang sebagai serat tekstil, walaupun ada beberapa parameter yang perlu dikurangi terutama kandungan mineralnya. Untuk itu kajian teknologi output serat geronggang masih memberikan peluang kayu geronggang sebagai serat lokal.

Selain pemanfaatan serat, potensi lain dari pohon geronggang dari aspek kandungan kimia kulit geronggang dan daunnya dapat dijadikan sebagai bahan biofarmaka. Hal ini mewujudkan sebuah integrasi yang multi manfaat, kayunya dijadikan sebagai sumber serat, sedangkan biomassa kulit kayu dan daun dapat dimanfaatkan untuk obat herbal.

Kearifan lokal Kabupaten Bengkalis menggunakan getah kulitnya sebagai obat gatal-gatal, hal ini didukung dari laporan ilmiah bahwa kulit geronggang memiliki senyawa anti bakteri dan jamur.

Potensi lain dengan adanya pengembangan kayu geronggang di lahan gambut adalah sebagai alternative mengatasi kebakaran lahan dan hutan. Secara fisiologis, kayu ini relatif tahan terhadap genangan baik itu temporer maupun permanen.

Secara sosial, pengembangan tanaman geronggang melalui budidaya massal turut serta mendapat apresiasi dari pemerintah daerah. Hal ini sejalan dengan program pemerintah Provinsi Riau melalui gerakan Riau Hijau. Melalui kegiatan rehabilitasi lahan dan hutan maka keseimbangan alam dapat terjaga sehingga menghindarkan kita dari bencana ekologis.***(Yeni Aprianis)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook