Pemanfaatan Limbah Lignoselulosa sebagai Sumber Energi Terbarukan

By Sutomo Dardi 05 Mar 2021, 09:25:58 WIBBERITA LITBANG & INNASI

Pemanfaatan Limbah Lignoselulosa sebagai Sumber Energi Terbarukan

Keterangan Gambar :


Pemanfaatan biomassa yang berasal dari tanaman dengan komponen penyusun utama selulosa, lignin dan hemiselulosa sebagai sumber energi sejak dulu telah diterapkan. Menurut Hermiati, Peneliti dari BPP Biomaterial, ketersediaan bahan lignoselulosa yang melimpah di alam berpotensi menjadi bahan baku energi terbarukan. Kondisi ini tentunya akan berlangsung dan berotasi serta tidak akan habis selama masih adanya budidaya tanaman.

Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian dari Yunida Syafriani Lubis, S.Hut, M.Sc, peneliti dari Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH). Yunida menyatakan bahwa biomassa di sektor kehutanan berupa biji-bijian dari jenis nyamplung, bintaro, dan malapari memiliki kandungan minyak yang cukup tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan untuk memproduksi biodiesel dengan persentase rendemen hingga 79%. Biodiesel yang bersifat ramah lingkungan tentunya tidak memberi kontribusi pada pemanasan global dan mudah didegradasi.

Selama ini terdapat biomassa yang berasal dari kayu. Biomassa kayu dapat dimanfaatkan langsung sebagai kayu energi melalui pembakaran. “Namun, pemanfaatan kayu sebagai bahan baku produk lain yang lebih bernilai ekonomis menyebabkan ketersediaan kayu semakin menurun dan juga merusak lingkungan” kata Yunida.

Alternatifnya, limbah yang dihasilkan dari produk berbahan dasar kayu seperti limbah penggergajian dan limbah kayu lapis dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pelet kayu. Pelet kayu merupakan bahan bakar alternatif berasal dari limbah seperti serbuk kayu yang diolah melalui proses pengeringan, pengempaan, serta dengan/tanpa tambahan bahan aditif. Pelet kayu biasa digunakan untuk bahan bakar penghangat ruangan, pemanas boiler, serta sumber bahan bakar pembangkit listrik skala besar.

Berdasarkan hasil penelitian dari IPB, UGM, dan BRSI Banjarbaru, pelet kayu memiliki standar kualitas yang meliputi kadar air, kadar abu, dan nilai kalor. Nilai kalor sebagai parameter utama menentukan kualitas pelet biomassa karena dipengaruhi oleh kadar abu dan jumlah karbon terikat. Semakin tinggi nilai kalor maka kualitas pelet akan semakin baik. Karakteristik pelet kayu yang berbeda-beda dipengaruhi oleh jenis dan ukuran bahan bakunya.

Biomassa lignoselulosa lain yang berpotensi sebagai bahan baku sumber energi adalah bagas tebu, sorgum, bonggol jagung, jerami, batang pisang, ubi atau batang ubi. Biomassa yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol sebagai bahan bakar cair alternatif berasal dari konversi tanaman yang bersifat ramah lingkungan.

Berdasarkan hasil penelitian dari Winarni, Peneliti dari Puslitbang Hasil Hutan BLI KLHK, pada sektor kehutanan bioetanol dapat diproduksi melalui tanaman sagu, nipah, dan juga limbah kayu. Pemanfaatan biomassa tersebut dapat bersinggungan dengan kebutuhan bahan pangan, untuk mengatasi hal tersebut, biasanya yang dimanfaatkan sebagai bahan produksi bioetanol adalah limbah hasil produksi utamanya. Produksi bioethanol dari limbah kayu sengon dengan ragi campuran menghasilkan kadar etanol sebesar 1,56%, lebih tinggi dari kadar etanol yang menggunakan ragi konvensional sebesar 0,65%.

Bioetanol memiliki karakteristik mudah menguap, mudah terbakar, larut dalam air, terurai secara biologis dan memiliki toksisitas rendah. Menurut Winarni, ada tiga tahap untuk mengkonversi biomassa menjadi etanol yaitu perlakuan awal, sakarifikasi, dan fermentasi. Akan tetapi proses tersebut dapat mempengaruhi jumlah etanol yang dihasilkan.

Lebih lanjut berdasarkan hasil penelitian Winarni pada tahun 2019 telah ditemukan metode untuk menghasilkan kadar etanol yang lebih besar, yaitu dengan menggunakan metode enzimatis. Dengan menggunakan metode enzimatis ini kadar etanol yang dihasilkan dari limbah biomassa kayu dapat mencapai 16,28%.

Sayangnya, produksi bioethanol dari biomassa lignoselulosa saat ini masih menghadapi berbagai kendala. Proses produksi yang membutuhkan biaya dan teknologi tinggi menyebabkan harga di pasaran juga tinggi. Tentunya dengan jumlah biomassa yang melimpah di Indonesia menjadi peluang besar sebagai bahan baku sumber energi terbarukan. **YSL



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook