Pemenuhan Nutrisi Pangan Melalui Produk Diversifikasi Kelor

By Sutomo Dardi 22 Sep 2020, 10:20:39 WIBPublikasi

Pemenuhan Nutrisi Pangan Melalui Produk Diversifikasi Kelor

Keterangan Gambar : Tegakan Pohon kelor yang masih kecil dan produk daun kelor.


Kelor ((Moringa oleifera) memiliki keunggulan sebagai tanaman yang bermanfaat besar untuk kesehatan. Berbagai publikasi hasil penelitian menunjukkan kandungan nutrisi yang luar biasa  dari kelor. Nutrisi yang terkandung pada kelor meliputi protein, vitamin A, B1, B2, C, E,  kalsium, magnesium, zat besi, serta berbagai macam asam amino. Nutrisi tersebut dinyatakan lebih tinggi dari pada yang terdapat pada buah dan sayuran lainnya. .

Selain mengandung nutrisi tinggi, kelor juga mengandung serat dan klorofil yang tinggi disertai antioksidan. Daun kelor mengandung fenol dalam jumlah banyak yang berfungsi sebagai penangkal radikal bebas. Potensi kelor sebagai obat herbal atau obat tradisional adalah membantu meringankan penyakit juga sudah banyak dikaji.

Lebih lanjut kelor juga berpotensi sebagai bahan baku dalam industri kosmetik, obat-obatan, perbaikan lingkungan dari cemaran dan menjaga kualitas air bersih melalui kandungan antimikrobialnya. Tidak heran kalau kelor disebut Miracle Tree dan Mother’s Best Friend karena kelor memiliki sifat fungsional bagi kesehatan serta mengatasi kekurangan nutrisi.

Semua bagian tanaman kelor baik daun, batang, akar maupun biji mengandung manfaat dan khasiat masing-masing. Daun kelor merupakan bagian tanaman yang paling banyak digunakan. Olahan sederhana daun kelor adalah menyeduhnya sebagai teh dan memasak daun segar sebagai sayur.

Untuk mempermudah pemanfaatannya Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) mengolah daun kelor menjadi beragam produk diversifikasi. Ragam produk olahan kelor yang telah dihasilkan adalah teh daun, teh celup, tepung kelor dan sabun kelor. Teh daun dan teh celup dapat dikonsumsi sebagai minuman multi khasiat.  Tepung kelor dapat ditambahkan ke berbagai macam jenis masakan seperti nasi goreng, mie rebus dan mie goreng, jus buah atau smoothies, pudding, kue, keripik, coklat, ataupun dikonsumsi dalam bentuk pil. Sabun kelor dapat membantu meningkatkan kesehatan kulit.

Beragam produk ini secara ekonomi memiliki harga yang cukup terjangkau yaitu berkisar Rp. 10.000,- hingga Rp 20.000,-. Berdasarkan hasil analisa usaha yang dilakukan tim BP2TSTH, produk teh kelor memiliki Benefit Cost Ratio (BCR) sebesar 1,83 sedangkan produk sabun memiliki BCR sebesar 2,52. Dengan demikian, usaha dibidang pengolahan tanaman kelor ini dapat dikategorikan layak untuk sebuah kegiatan peningkatan ekonomi. Pengolahan tanaman kelor ini dapat dilakukan sebagai industri rumah tangga maupun melalui skema pemberdayaan. 

Pengolahan daun kelor ini dilakukan secara sederhana dan dapat dilakukan oleh ibu rumah tangga dengan input teknologi minimalis. Daun kelor yang dipanen umumnya daun kelor yang masih berwarna hijau. Setelah dipanen, daun-daun tersebut dipisahkan dari tangkainya kemudian dicuci agar bersih. Apabila menggunakanya sebagai sayur, setelah proses pencucian dapat langsung dimasak sebagai olahan sayur.

Apabila akan diolah sebagai teh, bahan baku ini harus dikering anginkan untuk menguapkan air sisa pencucian dan melayukannya terlebih dahulu. Setelah kering, daun ini akan menjadi teh daun. Untuk menghasilkan produk teh celup, tepung kelor maupun kapsul, bahan baku ini harus dihaluskan dan disaring baru kemudian dikemas. Teknis diversifikasi produk lainnya baik itu sebagai sabun padat, sabun cair maupun shampoo pembuatanya dilakukan sebagaimana umumnya pembuatan produk ini. Komoditi kelor untuk produk pembersih ini hanya sebagai zat tambahan.

Pemanfaatan dan pengolahan daun kelor menjadi beragam produk ditujukan agar masyarakat dapat mengkonsumsi kelor secara mudah dengan beragam pilihan. Selanjutnya ditujukan sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan nutrisi keluarga sehingga mampu menekan angka gizi buruk. Nutrisi yang baik berkontribusi pada generasi penerus, mempersiapkan gizi pangan mendorong upaya pencerdasan generasi muda.

 

Ditulis oleh: Yelza Hamna1, Syofia Rahmayanti2, Herry Kurniawan2

1 Mahasiswa Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Lancang Kuning

2 Peneliti Silvikultur Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook