Pengusaha Madu Pekanbaru Tertarik Gunakan Test Kit Madu BP2TSTH Kuok

By Sutomo Dardi 20 Jan 2021, 15:40:02 WIBBERITA LITBANG & INNASI

Pengusaha Madu Pekanbaru Tertarik Gunakan Test Kit Madu BP2TSTH Kuok

Keterangan Gambar : Kepala Seksi DISP ,Peneliti BP2TSTH (kiri) dan Pengusaha Madu dari Pekanbaru Dustam dan Wirna (kanan)


Dustam dan Wirna, pengusaha madu dari Pekanbaru tertarik menggunakan test kit madu temuan Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) Kuok. Hal ini mereka ungkapkan setelah mendengar penjelasan Opik Taupik Akbar, S.Hut, Peneliti BP2TSTH, saat mereka berkunjung ke kantor BP2TSTH Kuok, Selasa (12/1/2021).

Menurut mereka, ini penting dalam menjalankan usaha mereka. Tetap menjaga kualitas madu yang dijualnya dirasa perlu, mengingat banyaknya supplier madu di Pekanbaru dan di Provinsi Riau umumnya. Pada kesempatan ini Wirna meminta panduan kerja test kit madu tersebut.

“Biasanya kami melakukan pengujian di Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) per sampel madu dari masing-masing supplier kami. Seandainya setiap madu yang datang diujikan ke laboratorium, maka berkorelasi terhadap cost (biaya) dan sirkulasi produksi,” terangnya.

“Oleh karena itu, selain melalui pengujian di BPOM, kami ingin melakukan pengujian kualitas madu secara mandiri namun praktis dan valid,” ujar Wirna sembari melihat sampel madu yang terdeteksi zat tambahannya.

Dustam menambahkan bahwasanya menjaga kemurnian madu sangat diperlukan untuk menjaga kepercayaan dan melindungi konsumen dari bahan campuran yang dapat merugikan kesehatan.

“Pembeli kami banyak yang sudah lanjut usia dan memiliki riwayat penyakit diabetes. Kalau sampai mereka mengonsumsi madu yang sudah dicampur, takutnya bukan tambah sehat tapi tambah parah sakitnya,” ungkapnya.

Kepada pengusaha madu tersebut, Opik selaku penemu test kit madu BP2TSTH, menjelaskan cara pengujian praktis dan prinsip kerja test kit madu dalam mendeteksi zat tambahan dalam madu.

“Test kit madu yang ada di BP2TSTH merupakan instrumen untuk mengetahui zat tambahan pada madu. Instrumen ini mampu mengidentifikasi zat tambahan berupa gula pasir, sirup fruktosa, dan tepung, melalui serangkaian test yang cukup praktis dan bisa diaplikasikan sendiri, kapanpun dan dimanapun,” papar alumnus Institut Pertanian Bogor ini.

Selain berdiskusi dan melihat langsung test kit madu BP2TSTH, kepada tamu tersebut, Agus Yanto, SH, Kepala Seksi Data, Informasi dan Sarana Penelitian - BP2TSTH juga memaparkan beberapa produk hasil pengembangan berbasis madu, propolis, dan kelor.

“Barangkali Bu Wirna dan Pak Dustam tertarik untuk memasarkannya, sehingga pengembangan Iptek litbang dapat menjangkau masyarakat umum,” ujar Agus.

Bak gayung bersambut, Wirna berencana mengembangkan produk turunan kelor hasil litbang BP2TSTH melalui beberapa Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang dibimbingnya. Wanita yang juga tergabung dalam Komunitas Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) ini tertarik dengan tawaran tersebut karena telah mendengar berbagai manfaat kelor dan telah menanamnya di halaman rumahnya untuk dikonsumsi sendiri. Namun terkait produk turunannya, ini merupakan hal baru baginya.

Dari pengusaha madu tersebut diketahui bahwa kedatangan mereka ke BP2TSTH berbekal informasi dari webinar yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disperindagkop UKM) Provinsi Riau, beberapa waktu lalu. Untuk mengetahui teknis pengujian zat tambahan madu, mereka disarankan datang langsung ke BP2TSTH Kuok oleh seorang penyuluh Disperindagkop UKM Riau.

Kunjungan ini menjadi bagian dari implementasi penggalian potensi BP2TSTH Kuok untuk pengembangan IKM yang dilakukan oleh Disperindagkop UKM Riau, tahun 2020 lalu. Paket Iptek dan produk hasil litbang diharapkan menjadi sumbangsih nyata B2TSTH kepada masyarakat, khususnya para penggunanya sekaligus menjawab kebutuhan daerah.***



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook