Perkuat Produk Litbang, BP2TSTH dikunjungi BP2THHBK
"proses hilirisasi produk-produk kelitbangan

By Sutomo Dardi 01 Sep 2020, 00:41:29 WIBBERITA LITBANG & INNASI

Perkuat Produk Litbang,  BP2TSTH dikunjungi BP2THHBK

Keterangan Gambar : foto bersama : Kepala BP2TSTH Priyo Kusumedi (empat dari kanan) kepala BP2THHBK Bintarto Wahyu Wardani (tiga dari kiri) dan pegawai dari kedua instansi kuok, 26 Agustus 2020. foto dardi sutomo


Forda (26/08)_ Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) mendapat kunjungan kerja dari Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (BP2THHBK) - Mataram. Kunjungan kerja diterima oleh Kepala BP2TSTH, Priyo Kusumedi,S.Hut,MP pada hari Rabu, 26 Agustus 2020 di Galeri Inovasi. Tim BP2THHBK terdiri dari Kepala Balai, Kepala Seksi Data, Informasi dan Sarana Penelitian beserta perwakilan peneliti dan teknisi litkayasanya. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka penguatan produk litbang berbasis HHBK.

Dengan keramahan, kepala BP2TSTH mengapresiasi dan mengucapkan selamat datang di Kuok, Provinsi Riau. "BP2TSTH saat ini mengambil hikmah positif atas kondisi yang kurang kondusif ini dengan memaksimalkan waktu untuk menata lingkungan. Melalui kegiatan revitalisasi arboretum, saat ini BP2TSTH memiliki beberapa spot edukasi di sekitar kantor" ucap Priyo sembari tersenyum.

“Penataan lingkungan kantor ini, dlakukan dengan cara mencari dana CSR BUMN,  untuk membangun beberapa show window hasil litbang sebagai lokasi wisata ilmiah di arboretum” ungkap Priyo

Bintarto Wahyu Wardani,S.Hut,M.Sc selaku kepala BP2THHBK mengungkapkan kekaguman dan maksud kunjungannya ke BP2TSTH. "Kami dari Mataram ini ingin melihat dan mempelajari proses hilirisasi produk litbang yang telah dilakukan oleh BP2TSTH. Selain itu, dengan adanya kesamaan kegiatan litbang di bidang perlebahan, tentunya tidak sulit dalam berkomunikasi terkait pengembangan produk-produk turunan lebah" ujar pria berkacamata ini.

BP2TSTH memiliki historis terkait kegiatan litbang di bidang perlebahan selain sejarah berdirinya yang membidangi HHBK, saat berganti core research sebagai teknologi seratpunmendapatkan penugasan khusus dari Kepala Badan Litbang untuk terus melakukan penelitian tentang lebah penghasil madu.

"Kegiatan perlebahan tidak hanya fokus pada madu dan diversifikasi produknya melainkan upaya konservasi jenis lebah penghasil madu baik itu dari jenis yang sudah umum maupun jenis endemik. Kita perlu mengantisipasi adanya trend budidaya lebah Trigona ini agar tidak menjadi infasif nantinya" tegas Bintarto.

Senada hal tersebut, Agus Yanto,SH menyampaikan bahwasanya kegiatan diseminasi BP2TSTH khususnya untuk lebah tanpa sengat tengah melakukan koleksi jenis yang ada di Riau sebagai langkah upaya konservasi.

"Kami telah memiliki beberapa jenis lebah tanpa sengat yang menghasilkan madu meliputi Heterotrigona itama, Geniotrigona thorasicha, Lepidotrigona terminata, Lophotrigona caniforns, Tetrigona apicalis dan Tetragonula laeviceps. Selain itu, penguatan produk berbasis HHBK Yang telah kami lakukan diantarannya propolis trigona, sabun madu, tepung kelor, enkapsulasi flavonoid gaharu hingga tool kit sidik cepat identifikasi zat tambahan madu" rinci pria yang mendekati purna tugas ini.

Menimpali hal tersebut, Priyo menjelaskan untuk memperkuat proses hilirisasi produk-produk kelitbangan selain memainkan peran media sosial kita mengupayakan mitra kerja untuk membangun sarana dan prasarana pendukung lainnya.

"Kami membangun taman sumber pakan lebah yang dinamakan eco bee park melalui pendanaan hibah dari CSR BNI 46 melalui skema BNI berbagi. Kuncinya adalah membangun komunikasi dan upaya diplomasi berbasis pendidikan dan pemberdayaan" ujar Priyo.

Tim BP2THHBK setelah diterima di galeri inovasi dibawa berkunjung ke taman diskusi, taman trigona, spot eco bee park dan sarana lainnya. Selain mengunjungi tim juga dibawa memanen madu dari beberapa koloni lebah tanpa sengat penghasil madu.

Salah satu peneliti BP2THHBK, Agus Sukito,S.Hut,M.Agr,Ph.D menerangkan upaya penyebarluasan paket iptek yang telah dilakukan di Mataram. "Melalui kunjungan ini Kami memperoleh ilmu baru terkait resource pendanaan dari mitra dimana anggaran CSR yang dihibahkan ke kita sebagai pemerintah" terangnya disela-sela kunjungan ke taman trigona.

Upaya diseminasi sejatinya bukan tugas tim manajemen semata, peran tenaga fungsional selaku pelaku juga dibutuhkan. Produk kelitbangan yang merupakan output kegiatan sudah menjadi hak umum untuk diinformasikan kepada pengguna. ***ESR



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook