Sinergi BP2TSTH dan BTNBT, Berdayakan Masyarakat di Zona Tradisonal
Sinergi BP2TSTH dan BTNBT

By Sutomo Dardi 22 Nov 2019, 15:36:34 WIBBERITA LITBANG & INNASI

Sinergi BP2TSTH dan BTNBT, Berdayakan Masyarakat di Zona Tradisonal

Keterangan Gambar : Foto bersama dengan kelompok tani


BP2TSTH (Siambul, 15/11)_Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (BTNBT) kembali mengajak Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) untuk bersinergi mengelola zona tradisional yang ada di kawasan BTNBT. Sejak tahun 2017 BTNBT telah melakukan inisiasi kegiatan pemberdayaan masyarakat yang ada di zona ini melalui pembentukan kelompok tani hutan (KTH) hingga pejanjian kerjasama.

Pada tahun 2019 ini, pengelolaan zona tradisional dilakukan di bawah koordinasi resort Siambul SPTN Wilayah 2 Belilas Riau yang  secara administratif berada di Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kawasan zona tradisional secara vegetasi merupakan suksesi sekunder dalam bentuk perkebunan rakyat dan juga semak belukar.

Kegiatan kali ini berlangsung selama delapan hari pada tanggal 04 – 12 Nopember 2019 meliputi KTH Batu Berdiri yang beranggotakan 15 orang di Dusun Sadan, KTH Bomban Berduri di Dusun Air Bomban dengan anggota 17 orang, KTH Kasih Alam di Dusun Nunusan yang beranggotakan 26 orang dan KTH Tualang Sejahtera dengan anggota 15 orang di Dusun Tualang.  Dalam pelaksanaannya tim perlebahan yang dipimpin oleh Syasri Jannetta, SP dan Eko Sutrisno, SP turut didampingi oleh penyuluh kehutanan BTNBT yaitu Fonda Amelia Sarah, S.Hut dan Nur Hajjah, S.Hut serta beberapa anggota polisi kehutanan di resort Siambul.

memberikan penjelasan kepada kelompok tani

Perjalanan ditempuh menggunakan sampan bermesin selama enam jam, ke arah hulu menyusuri sungai Batang Gansal. Disela-sela perjalanan Fonda Ameliasari, S.Hut menyampaikan “KTH yang telah dibentuk hingga tahun ketiga ini telah memiliki progres yang cukup signifikan diantaranya telah mampu memproduksi madu kelulut setahun belakangan. Padahal alih teknologi oleh tim perlebahan litbang Kuok dilakukan pada semester kedua tahun 2018. Ini artinya potensi pakan lebah di dusun – dusun tersebut sangat melimpah dan berhasilnya transfer iptek mengenai teknis budidaya lebah kelulut” papar wanita muda ini.

Senada hal tersebut, Kepala Resort SPTN Wilayah II Siambul, Lukman Hery Prasetyo, S.Hut., M.Eng menyatakan “sinergitas kegiatan dengan multipihak selalu dilakukan oleh BTNBT dalam scope pemberdayaan masyarakat lokal yang ditujukan untuk menjaga kawasan hutan konservasi. Skema kolaboratif BTNBT dengan BP2TSTH ini secara tidak langsung mengurangi intensitas masyarakat untuk mencari nafkah didalam kawasan” pungkasnya.

Paket iptek perlebahan bagi BP2TSTH memang sudah tidak asing lagi, sejak tahun 2013 alih teknologi untuk transfer pengetahuan teknis ini hampir rutin dilakukan dengan skema kerja sama. Stakeholder yang mengundang meliputi instansi pemerintah maupun swasta dengan target peserta yang lebih variatif. Syasri Jannetta, SP mewakili tim perlebahan BP2TSTH menjelaskan “kerjasama pemberdayaan masyarakat di zona tradisionalan BTNBT ditahun kedua ini dilakukan dengan skema teori dan praktek yang mencakup penanganan pasca panen dan diversifikasi produk perlebahan. Hal ini dengan pertimbangan bahwa secara teknis anggota KTH telah menguasai dan mampu memproduksi madu dari lebah kelulut sehingga dirasa pas untuk memberikan pengetahuan lainnya” ujar pria yang memulai karir semenjak lulus SKMA di tahun 2001.

Pengelolaan zona tradisional BTNBT ini menjadi tantangan tersendiri dikarenakan secara sosial kultur anggota KTH di keempat dusun ini adalah suku talang mamak dan melayu tua yang memiliki ketergantungan hidup dengan hutan yang sangat tinggi. Disisi lain, akses yang lumayan sulit dan keterbatasan informasi dari luar membuat proses transfer knowledge membutuhkan penyederhanaan mekanisme***(ES & SJ).



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook