Tiga Jenis Pohon Lokal Gambut untuk Hutan Tanaman

By Sutomo Dardi 22 Sep 2020, 15:11:37 WIBBERITA LITBANG & INNASI

Tiga Jenis Pohon Lokal Gambut untuk Hutan Tanaman

Keterangan Gambar : pohon geronggang, pohon mahang dan pohon skubung


Hutan Tanaman Penurun Deforestasi

Dalam kurun waktu 1990 – 2015, Keenan dkk (2015) melaporkan bahwa luas deforestasi di wilayah tropika mencapai 195,4 juta ha. Dari luasan tersebut, menurut FAO (2015) sebanyak 14% atau 27,5 juta disumbangkan oleh Indonesia. Berbagai upaya untuk menekan laju deforestasi tersebut terus dilakukan oleh Indonesia, terutama oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Hasilnya, KLHK (2018) mencatat bahwa telah terjadi penurunan laju deforestasi yang mana laju nettonya untuk kurun 2016 – 2017 sudah di bawah angka 0,5 juta ha/tahun. Keberhasilan diapresiasi dunia, antara lain dalam bentuk pemberian dana dari pemerintah Norwegia. Keberhasilan yang bukan sekedar kebangggaan, tetapi juga merupakan salah satu pendorong untuk terus melakukan kegiatan-kegiatan berbasis rehabilitasi hutan dan lahan.

Rehabilitasi berbasis pembangunan hutan tanaman pada hutan dan lahan terdegradasi merupakan metode yang powerfull dan layak untuk terus dipromosikan untuk mengurangi deforestasi. Jika konsisten dilakukan pada lahan-lahan yang tak produktif (kuantitas tegakan < 20 m3/ha) maka setidaknya ada dua dampak positif yang berpeluang diperoleh. Dampak positif pertama akan meningkatnya pasokan kayu maupun non kayu dari non hutan alam, sehingga gap antara permintaan dan penawaran kayu/non kayu bisa diperkecil. Dampak positif yang kedua adalah berkurangnya tekanan terhadap hutan alam karena beberapa jenis kayu bisa diperoleh dari pasokan hutan tanaman, sehingga deforestasi pun bisa semakin ditekan. Artinya peluang menyelamatkan lebih banyak hutan alam  akan semakin besar.

Hutan Tanaman di Indonesia

Secara luasan, Indonesia termasuk 10 besar negara dengan hutan tanaman terluas di dunia (Indufor 2014 dalam Barua, 2015). Namun, persentasenya terhadap luas lahan dan hutan terdegradasi, nampaknya relatif masih belum tinggi, sehingga penambahan hutan tanaman harus terus digesa dan direalisasikan. Adapun total hutan tanaman yang dilaporkan KLHK (2018) sampai tahun 2017 adalah sekitar 4,6 juta ha.

Praktik hutan tanaman telah dikenal cukup lama dalam pengelolaan hutan di Indonesia. Praktik ini sudah ada jauh sebelum kemerdekaan, yakni pada zaman kolonial Belanda berupa pengelolaan hutan tanaman Jati dan Pinus di Pulau Jawa. Jejak-jejak hutan jati dan pinus ini pun masih ada sampai sekarang dan dikelola oleh PT. Perhutani. Pembangunan hutan tanaman terbaru adalah dalam bentuk hutan tanaman industri (HTI). Berbeda dengan hutan tanamannya perhutani, HTI lebih banyak dibangun di luar Jawa dan dominan diarahkan sebagai penyedia bahan baku pulp dan kertas (HTI-pulp). Tidak sedikit dari HTI-pulp ini, pembangunannya dilakukan di lahan gambut, seperti di wilayah Riau, Jambi dan Sumatera Selatan.

HTI-pulp di lahan gambut menanam pohon pengkasil kayu pulp dari jenis eksotik, yakni Acacia crassicarpa (krassikarpa). Jenis ini bukan termasuk pohon asli Indonesia dan juga bukan termasuk pohon asli ekosistem hutan rawa gambut. Krassikarpa mengalami penurunan performa produktivitas karena standing stock pada saat akan panen mengalami penurunan yang drastis. Junaedi (2018) mencatat bahwa pada umur 5 tahun persen hidup tanaman yang tersisa < 30%. Adanya serangan penyakit diduga merupakan salah satu penyebabnya. Upaya perbaikan performa jenis eksotik yang dikembangkan, terus dilakukan pihak manajemen HTI-pulp, namun sampai saat ini upaya tersebut nampakny belum mendapatkan hasil yang optimal.  Pada lain sisi lain, jika terus mengandalkan jenis eksotik atau jenis bukan asli gambut, justru akan menghadapi resiko yang lebih besar dikarenakan adanya PP. No. 57 Tahun 2016 yang secara tersirat mensyaratkan kedalaman muka kurang dari 40 cm untuk budidaya di hutan tanaman gambut. Nampaknya, jenis eksotik akan sulit beradaptasi dengan maksimal pada kedalaman muka air tersebut, karena dengan kedalaman muka air yang relatif dangkal akan menyebabkan zona perakarannya semakin lembab dan berdampak akan semakin rentan serangan penyakit.  Kenyataan ini medorong minat besar untuk mulai membangkitkan kembali keinginan mengeksplorasi jenis lokal (native species) lahan gambut untuk hutan tanaman.

Jenis lokal Gambut untuk Hutan Tanaman

Balai litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH), Badan Litbang dan Inovasi LHK (BLI) sejak tahun 2011 telah melakukan riset terhadap jenis-jenis lokal potensial untuk hutan tanaman. Secara spesifik untuk di lahan gambut terpilih tiga jenis pohon lokal yang telah diteliti lebih serius kemungkinannya untuk hutan tanaman. Ketiga jenis pohon ini adalah mahang (Macaranga pruinosa), skubung (Macaranga gigantea) dan geronggang (Cratoxylum arborescens).  Walaupun hasil dari penelitian tersebut masih dikategorikan penelitian awal dan belum dapat merekomendasikan secara pasti jenis mana yang terbaik untuk dipilih. Namun, dari hasil penelitian tersebut dan hasil-hasil penelitian lainnya terkait ketiga jenis lokal gambut tersebut memberikan beberapa catatatan penting yang bisa ditindaklanjuti dalm mendorong pemanfaatan ketiga jenis lokal tersebut.

Berikut catatan penting mengenai tiga jenis pohon lokal untuk hutan tanaman gambut :

1. Pertumbuhan dan produktivitas

Ketiga jenis lokal mempunyai kemampuan hidup yang jauh lebih baik dibandingkan krassikarpa, tetapi pertumbuhannya masih tertinggal dari krassikarpa. Persen hidup ketiganya pada 5.5 tahun adalah > 60%, sedangkan krassikarpa < 30%. Dari ketiganya persen terbaik ditunjukkan oleh geronggang yakni 80% pada umur 5.5 tahun (Junaedi, 2018).  Produktivitas terbaik ditunjukkan oleh jenis lokal mahang dengan riap volume 21.4 m3/ha/tahun, kemudian geronggang dengan riap 13.1 m3/ha/tahun. Riap volume kedua jenis lokal ini masih rendah dibandingkan krassikarpa, tetapi riap mahang telah melebihi target yang dicanangkan oleh BLI untuk riap jenis alternatif penghasil pulp (15 m3/ha/tahun). Sebagai catatan, riap jenis lokal tersebut diperoleh melalui praktik silvikultur yang biasa dipraktekkan pada krassikarpa, tetapi benihnya masih berasal dari benih asalan atau belum bibit unggul. Dengan demikian, sebaiknya ada perbaikan teknik silvikultur pada jenis mahang dan geronggang. Kegiatan lanjutan yang terpenting adalah pemuliaan pohon untuk mendapatkan bibit unggul mahang dan geronggang. Hal ini bisa merujuk kepada keberhasilan jenis Eucalyptus di Brazil. Sebelumnya riap Eucalyptus spp di Brazil hanya 10 – 17 m3/ha/tahun, namun setelah adanya pemuliaan pohon bisa mencapai 25 – 70 m3/ha/tahun (Goncalves dkk, 2013; Leksono, 2016). Dengan adanya bibit unggul riap mahang dan geronggang pun diharapkan bisa mencapai > 25 m3/ha/tahun. Khusus untuk skubung, nampaknya jenis ini lebih cocok dikembangkan di lahan mineral.  karena pertumbuhannya lebih progressif di lahan mineral yakni riap tinggi dan DBHnya mencapai 3 m/tahun dan 3.8 cm/tahun (Amirta dkk, 2016; Susanto dkk, 2017).

 

2. Kualitas Serat dan Kayu

Kualitas serat dan komponen kimia kayu ketiga jenis lokal relatif mirip. Ketiganya memiliki anjang serat > 1 mm, selulosa > 50% dan lignin > 30% (Aprianis, 2016). Untuk pulp, geronggang memiliki berat jenis yang terbaik yakni 0,46; sedangkan mahang dan skubung adalah 0,38 dan 0,31 (Aprianis, 2016). Untuk mendapatkan 1 ton pulp, kayu geronggang yang dibutuhkan lebih sedikit (4,83 m3) dibandingkan mahang (6,49 m3) dan skubung (7,13 m3) (Aprianis, 2016). Dengan konsumsi kayu yang lebih efesien, jika harus memilih salah satu jenis yang diprioritaskan, nampaknya geronggang lebih cocok untuk dikaji lebih lanjut karena konsumsi kayu 4.83 tersebut sudah mendekati konsumsi kayu Akasia dan Eucalyptus di HTI.

3. Ekologi

Junaedi (2014) menunjukkan bahwa serapan karbon dari komponen seresah geronggang lebih tinggi dibandingkan jenis lokal mahang dan skubung. Junaedi dkk (2020) pun menunjukkan bahwa hara N, P dan K yang dikembalikan ke lantai oleh geronggang tidak hanya lebih tinggi dibandingkan mahang dan skubung, tapi juga lebih tinggi dibandingkan krassikarpa yakni pada umur 2 -3 tahun mencapai 60,69 kg N/ha/tahun; 10,82 kg P/ha/tahun dan 57,68 kg K/ha/tahun.  Kemudian, secara umum diversitas tanaman bawah pada ketiga jenis lokal lebih beragam dibandingkan di bawah tegakan krassikarpa. Secara khusus untuk geronggang, Toriyama dkk (2014) menyebutkan bahwa jenis ini termasuk yang relative “tahan kebakaran”. Hal ini pun diperkuat oleh pernyataan Yulinati (2018) yang mengutip laporan Usup (2004) bahwa geronggang mempunya nilai kalor yang termasuk rendah yakni 16 kJ/g. Junaedi (2014) pun telah membuktikan bahwa pada jarak tanam 2 m x 3 m, geronggang mampu menjaga kelembabahan lahan gambut sekalipun pada musim kemarau. Dengan berbagai temuan ini, nampaknya memiliki kelebihan dari segi ekologi dibandingkan jenis lokal lainnya, terlebih dibandingkan jenis eksotik krassikarpa.

4. Pemanfaatan (Eksisting dan peluang)

Saat ini ketiga jenis lokal gambut tersebut sudah familiar dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai ragam keperluan. Kayu mahang dan skubung antar lain digunakan untuk cerocok dan panel. Sementara itu, kayu geronggang dimanfaatkan untuk cerocok, papan, broti dll. Selain kayunya, bagian kulit, ranting dan daun telah diteliti kemungkinannya untuk diajdikan bahan baku obat-obatan.  Bahkan, bunga geronggang merupakan sumber nectar potensial dalam budidaya lebah madu. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan di tingkat laboratorium, kulit dan ranting geronggang diduga potensial sebagai antioksidan, obat kanker dan HIV (Reutrakul dkk, 2006; Ibrahim dkk, 2015). Ramadhan & Kusuma (2017) dengan mengutip berbagai penelitian di dunia melaporkan potensi mahang dan skubung sebagai bahan baku obat dan kosmetik. Selanjutnya, Sutrisno (2020) pun telah meneliti kemungkinan pemanfaatan serat kayu mahang untuk nanoselulosa. Sebelumnya, Wahyudi dkk (2019) telah mengungkap peluang besar pemanfaatan serat mahang untuk papan serat kerapatan sedang (MDF)

Berdasarkan uraian pada keempat aspek di atas, nampak bahwa ketiga jenis lokal tersebut telah memberi manfaat baik secara ekologi maupun secara ekonomi. Peluang pemanfaatan yang lebih besar di masa depan pun sangat terbuka, tidak hanya untuk pulp, kayu, tetapi juga untuk papan serat, obat-obatan, nano selulosa, produksi madu dll. Dalam praktiknya perlu didukung oleh keberadaan bahan baku yang lestari. Hal ini bisa dipenuhi melalui pembangunan hutan tanaman produktif dan lestari. Untuk itu, upaya perbaikan kualitas pertumbuhan dan produktivitas pada jenis lokal tersebut merupakan aspek penting yang harus dilakukan, yaitu melalui perbaikan silvikutur jenis dan pemuliaan pohon.***AJ.



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook