Persiapan dan Penguatan Ranperda Ekonomi Kreatif, Rombongan DPRD Agam Sambangi BP2TSTH

By Sutomo Dardi 26 Agu 2021, 10:49:51 WIBBERITA LITBANG & INNASI

Persiapan dan Penguatan Ranperda Ekonomi Kreatif, Rombongan DPRD Agam Sambangi BP2TSTH

Keterangan Gambar : Kepala BP2TSTH dan staf berserta Rombongan dari Kabupaten Agam foto bersama di Taman Diskusi Selulosa


Kuok (25/08/21)_Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) pada Selasa siang (24 Agustus) menerima kunjungan dari Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Rombongan dipimpin oleh wakil ketua DPRD beserta ketua dan anggota komisi II DPRD Agam dan diikuti oleh perangkat dewan lainnya yang berjumlah 15 orang. Rombongan disambut langsung oleh Kepala BP2TSTH, Kepala Unit lingkup BP2TSTH dan tim penelitian terkait di taman selulosa. Pertemuan ini dilakukan dalam rangka penguatan rancangan peraturan daerah tentang ekonomi kreatif di Kabupaten Agam.

Pertemuan yang dilakukan dengan protokol kesehatan ini diramu secara outdoor untuk kenyamanan berinteraksi ditengah masa pandemi global. Dalam sambutannya, Priyo Kusumedi,S.Hut,MP. selaku kepala BP2TSTH menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. “Kami berterima kasih telah menjadi rujukan untuk penguatan substansi dan referensi teknis dalam fase persiapan ranperda ekonomi kreatif di Kabupaten Agam, Sumatera Barat” terangnya.

Lebih lanjut Priyo menegaskan dalam sambutannya mengenai tugas pokok dan fungsi BP2TSTH yang wilayah kerjanya se- Indonesia tersebut. “Menjadi tempat bertanya atau tujuan study banding bagi kami merupakan wujud penyelesaikan tugas memenuhi kebutuhan lokal daerah. Melalui squad peneliti-teknisi yang ada di balai dengan kepakarannya masing-masing kami mengupayakan untuk membantu pemegang kewenangan dalam merumuskan kebijakannya berdasarkan data riset. Komunikasi ini merupakan bentuk “litbang hadir” memberikan informasi, pengetahuan dan teknis berbasis hasil riset  dalam scope diseminasi iptek yang telah dikuasai” ungkap Pria kelahiran Yogyakarta ini.

Selaku ketua rombongan, Irfan Amran mengungkapkan terimakasihnya atas respon baik pihak BP2TSTH. “Kami sangat berterimakasih atas penerimaan yang dikemas baik dan antusias begini. Bersama teman-teman dari komisi II DPRD Kabupaten Agam ini, kami berkunjung ke balai ini guna belajar dan mendalami secara teknis komoditi kehutanan yang dapat dilakoni masyarat Agam nantinya “ ucap wakil ketua DPRD Agam periode 2019 – 2024 tersebut.

Lebih lanjut ia menjelaskan mengenai kondisi geografis dan edafis Kabupaten Agam. “Secara geografis, kabupaten Agam memiliki luas sekitar 2.232 km2 atau 5,2% dari luas provinsi Sumatera Barat. Topografinya yang bervariasi membuat potensi kehutanan senantiasa terjaga. Nah untuk itu kami belajar ke litbang ini tentang pola-pola pemanfaatan hingga penentuan jenis-jenis hasil hutan bukan kayu yang dapat dijadikan komoditi pemberdayaan masyarakat Agam” imbuhnya melengkapi.

Berdasarkan penelusuran di portal resmi pemerintah kabupaten Agam (https://www.agamkab.go.id/), Kabupaten Agam merupakan kawasan perbukitan - pegunungan dan pesisir yang didominasi oleh kawasan lindung dengan basis ekonomi pertanian, perkebunan lahan kering dan hortikultura. Disamping itu, Agam sendiri menjadi kawasan rawan bencana dengan sebaran potensi bahaya tsunami, abrasi, gerakan tanah/longsor dan gempa serta letusan gunung berapi.

Memasuki acara inti, tim penelitian yang diwakili oleh peneliti memaparkan mengenai capaian dan penguasaan iptek Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang meliputi:

1. Pengenalan dan prospek bisnis budidaya kelor Oleh Hery Kurniawan,S.Hut,M.Sc

2. Selayang pandang dan kalkulasi ekonomi budidaya lebah penghasil madu oleh Avry Pribadi,S.Si,M.Sc

3. Input teknologi pengolahan dan pasca panen komoditi HHBK oleh Opik Taupik Akbar,S.Hut

4. Pengenalan dan prospek pengembangan taxus oleh Eka Novriyanti,S.Hut,M.Si,Ph.D

5. Nilai ekonomis dan scale up minyak Atsiri oleh Dr. Aswandi,S.Hut,M.Si 

Dikutip saat melakukan paparan, Hery Kurniawan,S.Hut,M.Si menekankan tentang pentingnya memahami potensi jenis-jenis lokal daerah yang mungkin belum maksimal pemanfaatannya. “Kelor yang sudah umum ditahui bahkan populer melalui pepatah hingga saat ini masih sering terabaikan keberadaannya. Padahal berdasarkan sejumlah publikasi ilmiah menyampaikan beragam khasiat dari jenis tumbuhan ini hingga badan kesehatan dunia (WHO) menyatakan pohon ini sebagai miracle tree” ungkap Hery. Lebih detail ia menyampaikan mengenai kondisi ekologis di Kabupaten Agam.

“Danau Maninjau sering kali diberikan mengalami blooming effect yang berdampak langsung pada ekonomi masyarakat di sekitarnya. Padahal jikalah kita sedikit belajar, daun ataupun biji kelor dapat dimanfaatkan untuk mengatasinya. Hal tersebut dikarenakan kandungan senyawa koagulan yang mampu menjernihkan air. Maka dengan sedikit berikhtiar melalui input teknologi jenis lokal ini akan mampu menyelesaikan permasalahan lingkungan yang ada di sekeliling kita” tukas pria berkaca mata ini.  

Ditemui disela-sela kegiatan, Agus Wahyudi,S.Hut,M.Si selaku Pelaksana Tugas Kepala Seksi Data, Informasi dan Sarana Penelitian menuturkan konsep diseminasi yang merupakan bagian tak terpisahkan dengan kegiatan penelitian. “Setelah pelaksanaan kegiatan kelitbangan maka akan diperoleh hasil berupa data dan informasi. Selanjutnya output tersebut agar bermanfaat dan bagian dari tanggung jawab moriil wajib kita sebar luaskan. Itulah pentingnya publikasi yang secara teknis termasuk bagian dari diseminasi” ujar Agus.

Sinergitas antar lembaga pemerintah saat ini tentunya menjadi hal yang lumrah. Dengan menahan egosektoral maka kolaborasi yang apik akan memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat. Institusi litbang dengan segala informasi berbasis data akan berdaya guna jika dijadikan landasan fundamental dalam menetapkan regulasi (ESR).



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook