BP2TSTH Hutankan Kembali Lahan Gambut Kepau Jaya
BP2TSTH Hutankan Kembali Lahan Gambut Kepau Jaya

By Sutomo Dardi 14 Feb 2020, 11:18:21 WIBHutan Penelitian

BP2TSTH Hutankan Kembali Lahan Gambut Kepau Jaya

Keterangan Gambar : sebagian pohon sawit yang sudah diracun.


BP2TSTH Kuok (Februari 2020)_Di tengah adanya konflik tenurial dan permasalahan hukum menyangkut keberadaan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kepau Jaya, Riau yang tak kunjung usai, Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) yang diamanahi oleh Kementerian Kehutanan sebagaimana Surat Keputusan Nomor:74/Menhut-II/2005 tanggal 29 Maret 2005 tentang penunjukan kawasan hutan penelitian pakan lebah yang berada pada kawasan HPT Tesso Nilo seluas 1.027 Ha dan Surat Keputusan Kepala Badan Litbang Kehutanan No. SK 96/Kpts/VIII/2004 Tanggal 6 September 2004 tentang penunjukan penanggung jawab pengelolaan KHDTK Kepau Jaya terus berupaya merehabilitasi kawasan hutan rawa gambut yang terdegradasi ini agar sesuai dengan tujuan penunjukkannya.

Perubahan tata guna lahan, yaitu perambahan KHDTK dimulai pada tahun 1997 dan paling massif pada saat tahun 1999 sd 2000 dan berlangsung hingga tahun 2010 sehingga KHDTK Kepau Jaya di dominasi perkebunan kelapa sawit baik perorangan maupun korporasi.

Usaha penegakan hukum seiring dengan perambahan KHDTK terus dilakukan dan yang paling mengembirakan adalah dengan adanya putusan Mahkamah Agung RI Nomor 2586 K/Pid.Sus/2018 atas perkara tindak pidana khusus pada tingkat kasasi dengan terdakwa Zaiful Yusri, S.H. (Mantan Kepala BPN Kampar) terlah dinyatakan bersalah dan barang bukti khsusunya sertifikat dan lahan dikembalikan menjadi kawasan hutan.

Komitmen BP2TSTH untuk mengembalikan fungsi lahan dan pemulihan ekosistem yang ada di KHDTK Kepau Jaya tertuang dalam program kerja pada Rencana Pengelolaan KHDTK Kepau Jaya Periode 2020 – 2039. Semenjak tahun 2010, luas tutupan lahan yang dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan hanya tersisa 24 ha dari 1.072 ha sedangkan lahan lainnya sudah berubah menjadi tanaman sawit dan karet milik masyarakat.

Kemudian, dari 1.000 an ha, hanya tersisa sekitar kurang dari 10 ha yang merupakan suksesi hutan sekunder, sebagian besar areal dari KHDTK memang sudah tergolong rusak secara fungsi dan terdeforestasi menjadi perkebunan kelapa sawit dan semak belukar. Sebagian besar areal bersawit ini pun, masuk ke dalam ranah permasalahan hukum yang masih terus diupayakan untuk penuntasannya.  Berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh tim internal BP2TSTH, dapat disimpulkan bahwa konflik yang terjadi di KHDTK Kepau Jaya khususnya antara pengelola KHDTK dengan masyarakat sekitar kawasan terjadi karena masyarakat merasa tidak diberdayakan dalam pengelolaan dan yang merasa tidak memperoleh manfaat dari dari keberadaan KHDTK Kepau Jaya ditengah pemukiman mereka.

Pada tahun 2019, KHDTK Kepau Jaya telah diusulkan untuk segera diproses penetapan dan kegiatan resolusi konflik dengan kegiatan pengembangan demplot kolaboratif terus dikembangkan dengan KTH yang dibentuk agar memberikan efek positif kepada lahan-lahan yang masih dominan kelapa sawit. Merujuk pada peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor :P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016 tentang perhutanan sosial, manajemen BP2TSTH dan tim penelitian melakukan inisiasi pembentukan kelompok tani yang diposisikan sebagai mitra konservasi.

Upaya tersebut merupakan upaya resolusi konflik untuk kompleksitas permasalahan pengelolaan KHDTK Kepau Jaya. Beberapa kali melakukan kunjungan ke aparatur daerah setempat dan tokoh masyarakat yang ada, usaha tersebut membuahkan hasil dengan terbentuknya kelompok tani yang diberi nama “Tuah Tani Tonggak Negeri” dengan payung hukum berupa Surat Keputusan Kepala Desa Kepau Jaya Nomor 113/SK/KJ/2019 pada tanggal 9 Mei 2019. Pola komunikasi yang diterapkan mewujudkan adanya kemitraan konservasi sebagai bentuk pelibatan masyarakat di sekitar KHDTK Kepau Jaya yang dapat berkontribusi terhadap ekonomi keluarga anggota kelompok tani.

Lebih lanjut, yang menarik dari anggota kelompok tani ini adalah mereka yang merupakan masyarakat sekitar KHDTK Kepau Jaya dan dahulunya pernah menduduki segelintir areal di kawasan KHDTK untuk dijadikan areal perkebunan kelapa sawit dan atau tanaman karet. Bergabungnya masyarakat yang dulu pernah beraktifitas di areal KHDTK tentunya menjadi sebuah peluang dan juga tantangan. Peluang tersebut dikarenakan mereka akan menjadi contoh untuk masyarakat lain yang masih berkegiatan di areal KHDTK bahwa tidak dengan mengokupasi hutan tetap dapat menjadi sumber penghasilan. Selain itu, mereka yang pernah melakukan budidaya tentunya akan paham secara teknis terkait kondisi areal tanam dan periode genangan. Sedangkan tantangan berasal dari konsep kemitraan yang mana adanya peran sinergi yang saling membahu untuk memulihkan ekosistem rawa gambut di KHDTK Kepau Jaya saat ini yang mana membutuhkan penyamaan persepsi dan komitmen bersama.

Selanjutnya, kelompok tani tersebut telah merumuskan program kerja seiring dengan pembentukan divisi kerja. Pada divisi pengembangan usaha hasil hutan bukan kayu, salah seorang anggota yang dahulunya pernah beraktifitas di KHDTK Kepau Jaya dengan membangun perkebunan kelapa sawit secara swadaya dan sukarela mematikan satu jalur kelapa sawit yang telah dirawatnya untuk diganti dengan tanaman aren dan giam. Kedua jenis tanaman yang tergolong kedalam komoditi hasil hutan bukan kayu tersebut ditujukan untuk penganekaragaman jenis yang secara ekologi akan meningkatkan indeks biodersitas.

Masih berfokus pada kegiatan kelompok tani khususnya pada divisi pengembangan usaha agroforestry, kelompok tani menggarap lahan dengan tutupan vegetasi berupa semak belukar di KHDTK Kepau Jaya seluas 2,7 hektar menjadi areal budidaya dengan sistem agroforestry. Pola tanam ini memadupadankan komoditi kehutanan dengan tanaman pertanian. Komoditi kehutanan sebagai tanaman pokok meliputi gelam (Melaleuca  leucadendron), Geronggang (Cratoxylon arborescens), balau merah (Shorea balangeran), meranti bunga (Shorea balangeran). Tanaman pertanian yang dibudidayakan disela-sela tanaman pokok berupa melon (Cucumis melo), cabe (capsicum sp), gambas (Luffa acutangula) dan terong (Solanum melongena). Pola tanam yang digunakan adalah sistem jalur dimana jarak tanam antar komoditi kehutanan adalah 3 x 3 meter dan lebar jalur tanaman pertanian setelah jalur komoditi kehutanan adalah 4 meter. Pada pembatas lahan agroforestry ditanami dengan aren (Arenga pinnata) dan kopi (Coffea liberika).

Kegiatan di atas masih terus dilaksanakan guna menopang kegiatan penelitian, pengembangan dan kegiatan pengelolaan KHDTK Kepau Jaya. Aktifitas budidaya yang dilakukan oleh kelompok tani yang dimulai pada tahun 2019 hingga saat ini dilakukan dengan skema partisipatif dan kolaboratif. Pembentukan kelompok tani sebagai sebuah kelembagaan yang menjadi salah satu resolusi konflik, diharapkan menjadi pemantik untuk pengembangan demplot dalam skala luas di KHDTK Kepau Jaya berbasis masyarakat.

Disamping kondisi yang tidak menggembirakan pada tutupan dan pengalihan fungsi di KHDTK Kepau Jaya, upaya penghutanan kembali pada luasan yang tidak menjadi areal kerja kelompok tani juga menunjukkan hasil yang memuaskan. Capaian progress tersebut dilakukan secara kolaboratif menyangkut tindangan persuasif dan penegakan hukum. Teknis penghutanan kembali tersebut dilakukan dengan bermacam skema pembangunan demonstrasi plot penelitian secara monokultur hingga penanaman dari jenis jenis MPTS dan komoditi hasil hutan bukan kayu lainnya diantara tanaman kelapa sawit produktif yang dikelola sepihak oleh masyarakat setempat maupun pendatang. 

dokumentasi : sebagian lahan yang sudah ditaman tanaman kehutanan

Percontohan dilakukan sekitar 2 hektar areal yang awalnya miskin tegakan dan umumnya didominasi alang-alang, paku-pakuan dan  semak belukar lainya telah berhasil direhabilitasi menjadi areal yang kaya tegakan. Areal ini telah ditumbuhi berbagai jenis pohon; baik jenis lokal gambut maupun jenis lainnya.Sebutlah geronggang, ramin, terentang, rengas, mahang, pulai rawa, jelutung dan berbagai jenis meranti ; terdapat juga jenis non gambut sebagai pengkayaan seperti jabon, Hopea odorata, merbau, pulai darat dll. Dengan beragamnya jenis yang ditanam, areal ini pun sekaligus merupakan kebun plasma nutfah yang bernilai, terutama untuk jenis –jenis pohon lokal gambut.

Pada areal lain yang terdapat genangan temporer, kayu geronggang dipilih sebagai tanaman utama untuk program reforestasi di areal ini. Kayu  geronggang tersebut berasal dari Pulau Bengkalis dan Taman Nasional Zamrud di Kabupaten Siak. Areal dengan genangan periodik seluas 2 ha areal yang awalnya kebun sawit bersemak belukar pun, kini sudah berubah menjadi hutan geronggang.

BP2TSH, tidak berhenti hanya menghutankan kembali areal ini, tapi juga mulai memanfaatkan keberadaan “hutan baru” ini untuk budidaya lebah madu. Kebijakan pemanfaatan tersebut dilakukan dnegan pertimbangan adanya beberapa jenis tanaman yang ditanam pada program pengayaan berperan sebagai sumber pakan bagi lebah penghasil madu. Beberapa stup koloni lebah dari jenis Apis cerana dan Trigona sp telah ditempatkan di bawah tegakan. Secara teknis untuk mendukung keberhasilan budidaya, pada kawasan ini pun telah diperkaya dengan berbagai jenis tanaman bunga-bunga penghasil nektar dan pollen yang bersekresi sepanjang musim.

Menilik keberhasilan progres reforestasi, upaya perluasan rehabilitasi pun telah dilakukan dan terus diwacanakan dengan menyasar areal bekas kebun kelapa sawit milik perorangan. Beberapa areal dengan karakteristik yang marginal dicirikan dengan iklim mikro yang relatif ekstrim, bertanah miskin hara. Selain itu juga masih terdapat tegakan sawit yang pada pada, bagian tumbuhan bawahnya didominasi jenis penciri lahan marginal seperti alang-alang, paku-pakuan dan herba lainnya.  ***AJ & ES



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook