Konsorsium Pulp dan Kertas Membangun Sinergitas
Diskusi Hilirisasi Hasil Litbang menuju Konsorsium Pulp dan Kertas

By andhika 14 Okt 2019, 15:04:32 WIBBERITA LITBANG & INNASI

Konsorsium Pulp dan Kertas Membangun Sinergitas

Keterangan Gambar :


Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) menjadi tuan rumah diskusi dengan tema “Hilirisasi Hasil Litbang menuju Konsorsium Pulp dan Kertas”

Kuok -- Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Huta (BP2TSTH) menjadi tuan rumah diskusi dengan tema “Hilirisasi Hasil Litbang menuju Konsorsium Pulp dan Kertas”. Kegiatan ini menghadirkan tamu dari Balai Besar Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2PTH) Yogyakarta yang digawangi oleh Dr Arif Nirsatmanto dan delegasi dari perusahaan pulp dan kertas yaitu PT Arara Abadi selaku stakeholder yang dipimpin oleh Jhony Avero, Jumat (11/10/2019) di kantor BP2TSTH Kuok.

Dalam sambutannya Priyo Kusumedi, S.Hut,MP menyampaikan sekilas milestone BP2TSTH dan gambaran umum capaian kegiatan litbang yang dilakukan oleh tim peneliti. “Dalam melaksanakan tusi, kami akan menerapkan konsep sinergitas untuk mewujudkan visi sebagai pusat iptek teknologi serat, lebih lanjut target ke depannya akan dilakukan penjaringan dan penjajakan kerjasama ke dewan serat Indonesia dan beberapa organisasi yang bergerak di bidang serat kayu dan non kayu,“ ujarnya.

“Konsorsium pulpdan kertas ini akan membangun sinergisitas institusi litbang untuk menghasilkan output yang bermanfaat tetapi juga akan memberikan dampak ekonomi yang baik untuk pengguna dan para anggota konsorsium untuk selalu tertantang untuk selalu meningkatkan hasil litbangnya,” jelas Priyo.

Priyo mengatakan, integrasi,kerjasama dan sinergisitas litbang adalah keniscayaan yang harus dilakukan oleh lembaga litbang agar hasil litbang atau produknya dapat dimanfaatkan dan diimplementasikan oleh para pengguna. Selain itu, kegiatan litbang harus berbasis pada kebuuthan pengguna, baik masyarakat, pemerintah maupun industri, sehingga mempunyai dampak ekonomi maupun sosial.

Lebihlanjut Priyo menyampaikan beberapa capaian litbang terkait dengan beberapa jenis alternatif tanaman penghasil serat di lahan gambut dan native species di Riau seperti mahang (Macarangagigantean), geronggang (Cratoxylumaborescens), sesendok (Endospermumdiadenum), jabon (Anthocephaluscadamba), terentang (Comnospermaauriculatum), skubung (Macarangahypoleuca), dan binuang (Octomelessumatrana) yang bisa dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan baku industri pulp dan kertas di Indonesia.

“Perlibatan BP2TSTH Kuok dalam konsorsium pulp dan kertas ini sudah sangat sejalan dengan tugas pokok dan fungsi BP2TSTH di bidang teknologi serat dan budidaya tanaman penghasil serat, oleh karena itu akan membuka peluang dalam sinergi litbang yang lebih bermanfaat untuk semua pihak bahkan hasil litbangnya ke depan bisa dihilirisasi dan dikomersialisasikan oleh industri,” imbuh Priyo.

Pada sesi paparan, Dr. Arif Nirsatmanto memaparkan mengenai konsep pemuliaan untuk pohon sebagai bahan baku pulp dan kertas. Merujuk pada UU Sisnas Iptek 2019 yang menekankan seluruh produk litbang wajib berdampak secara ekonomi dikarenakan keintegrasian unsur pemerintah, akademik dan bisnis. UU Sisnas Iptek mengamanatkan skema integritas, pembiayaan abadi riset, publikasi dan diseminasi hasil riset.

“Hasil kegiatan penelitian tidak cukup dan tidak akan bernilai apapun jika hanya menjadi pajangan di perpustakaan atau pun naskah publikasi yang dikonsumsi segelintir komunitas. Maka coba kita bangun sinergitas multisektor dalam skema keintegrasian,” ujar pria yang baru saja menyabet penghargaan innovation award dari Badan Litbang dan Inovasi (BLI) untuk kategori progressive scientist award tahun 2019.

Arif mengatakan, konsorsium pulp dan kertas yang dibangun ini melibatkan beberapa stakeholder antara lain B2P2BPTH Jogja, P3HH, Balai Besar Pulp dan Kertas Bandung, BP2TSTH Kuok dan mitra industri pulp dan kertas di Indonesia. Pelibatan beberapa stkaholder disesuaikan dengan tupoksi masing-masing dan berorientasi pada produk akhir yang dibutuhkan oleh industri. 

“Jadi ke depan semua hasil litbang harus berorientasi kepada produk yang dibutuhkan oleh industri bukan lagi pada KTI dan sejenisnya sehingga akan memberikan dampak economic benefit dan social impact kepada negara,” jelas Arif.

Selanjutnya, delegasi PT Arara Abadi, yang bernaung di bawah departemen Research and Development, menyampaikan mengenai skema penanaman massal Eucalyptus pellita hasil pemuliaan di areal konsesinya. “Penanaman yang kami lakukan mengadopsi pada teknis polatanam untuk kegiatan seleksi morfologi pohon hasi lpemuliaan,” pungkasnya. 

Pada sesi diskusi, beberapa peserta memberikan masukan untuk memberikan slot khusus untuk pengembangan jenis geronggang pada kegiatan ini karena dengan beberapa pertimbangan antara lain mempunyai sifat-sifat yang sesuai sebagai bahan baku sera tkhususnya pulp dan kertas serta sangat cocok dikembangkan di lahan gambut.

Kegiatan diskusi berjalan sangat dinamis, selain saling bertukar ide para peserta yang hadir juga menyampaikan pelingkupan kegiatan untuk memetakan kemungkinan kerjasama. Hasil diskusi yang dilakukan hari ini, selain menambah pengetahuan hilirisasi produk dan juga terbuka peluang kolaborasi riset berdasarkan keunggulan institusi masing-masing.



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook