Peneliti BP2TSTH Ikuti Training ‘Forest Reforestation and Rehabilitation
Peneliti BP2TSTH Ikuti Training

By Sutomo Dardi 06 Mar 2020, 17:51:05 WIBBERITA LITBANG & INNASI

Peneliti BP2TSTH Ikuti Training ‘Forest Reforestation and Rehabilitation

Keterangan Gambar : Sesi foto bersama saat opening ceremony


Training dengan tajuk ‘Forest reforestation and rehabilitation; community participatory’ diselenggarakan oleh Asian Forest Cooperation Organization (AFoCO) yang melibatkan 8 negara ASEAN yaitu Indonesia, Philippine, Thailand, Laos, Cambodia, Vietnam, Myanmar dan East Timor. AFoCO yang dikomandoi oleh Korea selatan menggelar pelatihan tersebut pada 23 – 28 Februari 2020 di Regional Education and Training Center (RETC) AFoCO yang berbasis di Nmawbi Township, Yangon, Myanmar. Peserta training ini mewakili praktisi kehutanan dari instansi pemerintah di negara-negara ASEAN baik dari aparat teknis pemerintahan maupun akademisi. Republik Indonesia diwakili oleh empat orang peneliti lingkup Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang salah satunya berasal dari Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan.

Training ini dibuka dengan opening remark dari Director General Departemen Kehutanan Myanmar, Dr. Nyi Nyi Kyaw yang menggunakan busana nasional Myanmar. Training tersebut digelar selama lima hari dengan format pembelajaran di kelas, kunjungan lapangan dan paparan ‘action plan’ per negara peserta yang disusun dari hasil pembelajaran. Pembelajaran di kelas diisi oleh instruktur yang berpenngalaman di bidangnya yang berasal dari Korea Selatan, Myanmar, Indonesia dan Food Agriculture Organization (FAO).

 

Pembelajaran pertama di kelas diisi oleh Prof. Lee Yohan dari Yeungnam University, Korea Selatan. Prof. Lee . Ia menyampaikan mengenai keberhasilan program Saemaul Undong dalam merehabilitasi hutan di Korea Selatan yang dikemas dalam paparan berjudul ‘Understanding national reforestation policy: national reforestation policy and Saemaul Undong in The Republic of Korea’. Program Saemaul Undong dimulai sejak tahun 1970an yang bertujuan untuk menghutankan kembali hutan di Korea yang habis dibabat dan hancur karena perang. “Program reforestasi ini mencapai keberhasilannya karena beberapa kunci keberhasilan: national leader, partisipasi masyarakat yang dari hati dan sangat menyeluruh, dan dedikasi tinggi dari petugas Saemaul Undong mulai dari level masyarakat hingga level pembuat kebijakan di pemerintahan” ungkapnya seraya menunjukkan foto-foto. “Prinsip dasar dari Saemaul Undong adalah diligence, self-help dan cooperation. Saemaul Undong mempromosikan edukasi, capacity building, environment improvement, income increase, creative power of human being (dynamic society)” rincinya mendetailkan.

Selanjutnya Dr. Thaung Naing Oo (Director Forest Research Institute, Forest Department, Myanmar) menyampaikan pengalaman Myanmar dalam program reforestasi nasionalnya. Pria paruh baya ini menjelaskan bahwa “Myanmar mengalami deforestasi sebesar 1,8% pada kurun waktu 2010-2015. Mengantisipasi hal tersebut, pemerintah Myanmar melakukan pendekatan berupa membantu regenerasi alami, penanaman pengayaan dan pembangunan hutan tanaman” ujarnya. Hutan tanaman yang utama dilakukan adalah jati (Tectona grandis) dan ironwood (Xylia xilocarpa). Pembelajaran ini disambung oleh Dr. Maung Maung Than (RECOFTC) dengan topik ‘Forest rehabilitation program, community and livelihood improvement’ yang juga memaparkan mengenai pengalaman Myanmar.

 

Kegiatan pembelajaran di kelas

Lecturer berikutnya diisi oleh Prof. Ahmad Maryudi (Universitas Gadjah Mada, Indonesia) dengan topik ‘Forest/landscape restoration & community participation: environmental justice consideration’. Prof. Maryudi menyampaikan “restorasi landscape di Indonesia sangat membutuhkan pendekatan yang community driven  (community based forest) dimana masyarakat diharapkan memiliki perubahan perilaku dan menginvestasikan sumberdayanya serta kemampuan mengkalkulasikan keuntungan ekonomi dari ‘forest tenure’ yang diusahakannya” tegasnya bersemangat.

Hal yang cukup penting dan sedang menjadi perhatian dunia saat ini juga menjadi materi dalam pendidikan ini yaitu mengenai gender dan food security yang disampaikan oleh perwakilan dari FAO. Mauro Bottaro dan Emma Gibbs, masing-masing menyampikan mengenai ‘the value of gender responsive approaches in the forest sector’ dan ‘Food security and nutrition’.

Kunjungan lapangan diatur oleh penyelenggara diklat ke plantation yang dikelola oleh pemerintah, dalam hal ini Forest Department, dan teak plantation yang dikelola oleh perusahaan swasta, EFD Group. Peserta diajak untuk melihat persemaian dan tegakan jati yang dikelola oleh pemerintah Myanmar dan private sektor nya. Selain jati, persemaian yang dikelola oleh pemerintah juga memperbanyak ironwood (Xylia xylocarpa) yang merupakan kayu komersil popular selain jati di Myanmar.

Kegiatan field trip

            Dalam kesempatan ini peserta juga dilatih untuk menyusun dan membangun action plan untuk mendapatkan pendanaan dari donor organisasi kehutanan internasional seperti AFoCO. Setiap negara peserta diklat didorong untuk dapat menyusun satu action plan per negara yang nantinya akan dipresentasikan pada hari terakhir sebelum penutupan training. Tim dari BLI menyampaikan action plan yang bertajuk ‘Improving land and forest rehabilitation through social forestry in Indonesia’.

            Sekembalinya dari kegiatan tersebut, Eka Novriyanti,S.Hut,M.Si, P.hD mengungkapkan “Sebagai bagian dari delegasi Indonesia, saya mengapresiasi pihak donatur organisasi kehutanan yang memberikan perhatian dan dukungan penuh terhadap upaya reforestasi global dan terima kasih untuk seluruh jajaran pihak KLHK yang telah memberi kesempatan menambah ilmu serta perluasan wawasan”tutur peneliti muda ini. Kepala BP2TSTH juga menegaskan bahwa “partisipasi peneliti dari unit kerja daerah merupakan sebuah reward dan setelahnya diharapkan mempunyai networking baru dan peningkatan kapabilitas dalam penyusunan proposal dengan tema yang up to date disertai dengan inovasi sebagai solusi” ungkapnya penuh harap. Seperti yang telah diagendakan, kegiatan ini akan dilakukan beberapa kali pada tahun 2020 dimana yang menjadi tuan rumahnya adalah negara-negara mitra AfoCO. Kesempatan tersebut selayaknya dimanfaatkan sebagai sarana penunjang bagi peneliti dalam meniti karir guna memenuhi tuntutan Hasil Kerja Minimum per kelas jabatannya (EN).



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook