PROFESSOR DARI EHIME UNIVERSITY BERI KULIAH UMUM KE PENELITI BP2TSTH

By balihut 27 Mar 2017, 04:50:49 WIB

PROFESSOR DARI EHIME UNIVERSITY BERI KULIAH UMUM KE PENELITI BP2TSTH

Keterangan Gambar :


BP2TSTH, (Kuok,  29 November 2016). “Hutan dan kayu hutan sangat penting sebagai pemasok bahan baku kebutuhan manusia dan peradaban. Budidaya tanaman hutan dimulai pada abad pertengan, khususnya di Jepang dan Eropa. Saat ini, pentingnya keberadaan  hutan alam (natural forest) diakui secara luas, namun begitu, metode pengelolaan hutan alam harus dibedakan dengan pengelolaan hutan tanaman (Artificial forest), dan manajemen genetika hutan memegang peranan penting” jelas Prof. Harada, Professor dari Ehime University, Jepang saat memberi Kuliah Umum kepada peneliti BP2TSTH.

Kuliah umum dimoderatori oleh Asep Hidayat, Ph.D., dan dihadiri peneliti dan pejabat struktural BP2TSTH. Prof. Harada memberikan kuliah umum tentang “Genetic Management of Forests” yang meliputi materi tentang:

  1. Introduction of Genetic Management of Forest
  2. Japanese forest
  3. Genetic variation
  4. Genetic management for natural forest
  5. Genetic management for artificial forest

“Saat ini 68% dari total daratan Jepang merupakan kawasan hutan yang terdiri dari Hutan alam sebesar 54%, dan hutan tanaman sebesar 41%. Pertumbuhan stok kayu maupun GDP (Gross Domestic Product) Kehutanan Jepang menunjukkan tren pertumbuhan yang positif, artinya bahwa pembangunan hutan di Jepang menunjukkan kinerja yang baik” papar Prof. Harada.

 Sementara itu variasi genetik dalam spesies mencakup perbedaan genetik individu (allelic difference) dan perbedaan genetik antara populasi( allele frequency difference). Hal Ini telah terakumulasi dan terbentuk melalui sejarah proses migrasi, kolonisasi, ekspansi dan juga oleh sistem perkawinan. Proses ini didukung adaptasi lokal oleh seleksi alam. Sehingga, data genetika pada tingkat populasi berisi informasi yang diperlukan untuk konservasi dan pengelolaan hutan lestari.

 “Genetic Management dapat diterapkan secara lebih luas untuk manajemen genetic  binatang/ satwa, dan sangat memungkinkan untuk diterapkan pada lebah madu” jelas Prof. Harada menjawab pertanyaan dari peneliti lebah madu, Avry Pribadi, S.Si . “Namun demikian penentuan luas minimal sumber benih secara eksak tidak dapat  diketahui dengan metode ini” tambah Harada.

 “Menjadi suatu keniscayaan untuk memahami dan mengadopsi prinsip management genetic of forest dalam mengelola hutan di Riau yang mana problematika kehutanan di Riau semakin komplek, semoga pengetahuan dari kuliah umum ini dapat diserap dan diterapkan oleh peneliti untuk membangun hutan di riau, tentunya melalui kegiatan penelitian dan pengembangan” Pungkas Ir. R. Gunawan H Rahmanto, Kepala Balai BP2TSTH. (DR)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment